![]() |
| Saat tak ada uang Rasanya Hidup Berhenti (Gambar Koleksi Admin) |
Saya pernah berada di titik itu. Membuka dompet, menghitung sisa yang ada, lalu menghitung hari sampai akhir bulan. Rasanya sesak. Zaman sekarang, semua hal butuh uang. Untuk makan, untuk kuota, untuk sekadar tenang.
Kalau tidak ada uang, rasanya kita seperti mati sebelum waktunya. Pikiran ke mana-mana, tidur tidak nyenyak, dan hal kecil pun terasa berat.
Jika kamu sedang merasakan hal yang sama malam ini, saya ingin bilang: kamu tidak sendiri. Dan perasaan itu wajar.
Uang memang seperti napas di zaman sekarang. Kita butuh untuk bertahan. Tapi napas yang sesak bukan berarti hidup kita selesai. Jantung kita masih berdetak. Ada hal-hal kecil yang masih bisa kita jaga.
Saya belajar beberapa hal kecil saat berada di fase sulit itu:
1. Bedakan antara panik dan fakta.
Panik bilang, "Saya akan mati kalau begini terus."
Fakta bilang, "Hari ini saya masih punya atap, air minum, dan satu hari lagi untuk mencoba." Tulis faktanya. Kadang itu cukup untuk membuat napas sedikit lega.
2. Beri jarak 5 menit untuk hadir.
Sebelum tidur, saya mencoba menulis 3 hal yang masih saya syukuri hari ini. Bukan hal besar. Sesederhana "masih bisa ngobrol dengan anak", "masih ada kopi hangat pagi tadi", "masih bisa menulis ini". Kebiasaan kecil ini tidak langsung mendatangkan uang, tapi mengembalikan kejernihan untuk berpikir.
Saya memakai sebuah jurnal kecil untuk kebiasaan ini. Ada prompt syukurnya, jadi tidak bingung harus menulis apa.
3. Gerak satu langkah kecil besok.
Daripada memikirkan 10 masalah sekaligus, saya pilih 1 saja untuk besok. Satu chat untuk menawarkan jasa, satu produk untuk difoto, satu tulisan untuk diselesaikan. Uang sering datang bukan dari lompatan besar, tapi dari langkah kecil yang konsisten.
Saya tahu tulisan ini tidak langsung mengisi dompetmu. Tapi saya berharap malam ini kamu bisa tidur sedikit lebih lapang.
Kita sedang berjuang di zaman yang tidak mudah. Tidak apa-apa merasa takut. Tidak apa-apa merasa lelah.
Besok kita coba lagi. Satu hari, satu langkah.
Pelan-pelan pulang.
Baca juga : Panik? Mari Simak Cara Ini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
#komentar sehat dan bertanggungjawab