Menulis postingan ini pagi-pagi sekali,saat dimana hati dan badan sedikit masih segar.Lalu berteman secangkir kopi dan sebatang rokok (aduh kebiasaan ini yang belum saya tinggalkan,sudah beberapa kali berusaha tetapi tepar terus dan merokok lagi).Membuat saya tergelitik untuk menjawab judul di atas.
Kaya berarti mempunyai sesuatu dengan jumlah yang cukup bahkan melebihi dari cukup.Kaya harta artinya mempunyai harta kekayaan pribadi lebih dari sekedar cukup untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga.Arti harfiah tersebut mungkin saja akan banyak definisi tetapi kuranglebih begitulah hehe..
Kaya Hati juga sama yaitu memilki persaan dan mental yang besyukur sehingga merasakan sesuatu yang di dapat dari hasil usaha dan apa yang diberikan Tuhan selalu dirasakan cukup.
Mana dari keduanya yang penting..?
Tentu akan banyak jawaban,tetapi menurut saya tentu dua-duanya menjadi penting,karena jika salasatu nya tidak ada pasti tak akan mulus dan bermanfaat kekayaan yang kita miliki,sejalan dengan kebutuhan materi dan immateri manusiawi seorang anak manusia.pasti sangat membutuhkan materi dan perasaan hati.
Yang tidak dianjurkan di dalam agama saya (Islam) adalah mencari dan memiliki sesuatu atau menjalankan sesuatu dengan secara berlebihan.Nah yang berlebihannya yang tidak boleh dalam Islam.
Carilah harta ibarat tak akan ada kematian dan beribadahlah seakan kematian akan menjemput kita besok,demikian salahsatu keterangan dalam agama untuk menyemangati kita mencari nafkah..
(maaf untuk dilanjutkan...)
Kamis, 08 Desember 2011
Minggu, 04 Desember 2011
Seperti Kecanduan TKI Migran Saudi Pulang Pergi
Menjadi TKI migran atau kasar katanya menjadi TKI pembantu atau sopir di Saudi kadang ada suka dan ada dukanya.Berbagai berita duka dan suka silih berganti dan meramaikan fenomena per TKI an di Saudi,terutama TKI migran,TKI informal yang sebagain besar hanya mengandalkan otot saja.
Rekan TKI yang sudah masuk Saudi seolah kecanduan untuk setelah pulang ke Indonesia selalu pulang balik lagi bekerja di Saudi kembali.
Padahal bekerja di Saudi Arabia sebagai sopir rumahan atau pembantu rumah tangga sangat rentan dan riskan terhadap perlindungan keamanan diri,terbatasnya komunikasi dengan dunia luar serta jarangnya berinteraksi sosial, menjadi warna kehidupan sehari-hari seolah Terpenjara,tetapi tetap saja menjadi TKI migran di Saudi seolah punya magnet untuk menarik eks-eks atau mantan TKI untuk kembali lagi ke sini ,Saudi Arabia.
Salahsatu sebabnya karena susahnya tenaga mereka terserap oleh lapangan kerja di dalam negeri,kalaupun mereka bisa bekerja di Indonesia tetapi gajinya tidak sebanding dengan gaji TKI sebagai sopir atau PRT di Saudi.
Para sopir dan PRT yang mantan Saudi ketika sudah tiba di Indonesia menjadi canggung untuk sekedar membuka usaha atau berwiraswasta,karena ketinggalan informasi bisnisnya atau jikalau bekerja sebagai buruh sejenis pun mereka selalu membandingkan gajinya dengan gaji ketika bekerja di Saudi.
Kenyataan membuktikan bahwa bekerja menjadi sopir dan PRT di Saudi adalah lebih baik gajinya dibanding dengan gaji dalam negeri dengan macam kerja serupa.
Meskipun sebenarnya jikalau merasakan bahwa harga diri di Saudi sebagai sopir atau pembantu kurang penghargaannya, tetapi urusan perut diri sendiri dan keluarganya di tanah air memang menjadi sebuah dilema.Harga diripun seolah diabaikan,kebanyakan membuat prinsip, tak apalah berakit-rakit dahulu ,mudah-mudahan senang di kemudian hari.
Harapan TKI Saudi semoga di hari ke depannya mereka mendapat modal yang cukup untuk membuka suatu bentuk usaha dan atau malah hanya berpikir pendek saja ,yaitu asal kebutuhan keluarga hari ini tercukupi mereka menggadaikan harga diri sekalipun sebagai kuli di negeri Saudi.
Seperti kata rekan Sopir TKI asal Sukabumi,Haji Usep berikut : "Saya bukan kecanduan tetapi terpaksa pulang pergi jadi TKI Sopir di saudi,karena anak saya udah tiga orang,satu kuliah,satu SLTA satu SMP,membutuhkan biaya total sekitar Dua Juta Rupiah setiap bulannya,kalau saya nyopir angkot di Indonesia,angka tersebut tidak bisa terpenuhi,ditambah kalau kerja disini kita jadi terpaksa tidak banyak pengeluaran karena "dipenjara" dengan jam kerja yang harus ready 18 jam sehari ,'.
Terlalu banyak kalau mau ditulis tentang semua ini,tulisan ini hanyalah mengulas sebagian saja masalah sisi kehidupan yang terlalu besar untuk di ulas tentang Buruh Migran Saudi.
Pembaca selamat siang.Terima kasih telah mampir di blog yang hampir vakum sebulan penuh karena saya tak bisa meng up date posting baru.
Selamat berkarya.
Teman mampir ya ke sini :
http://www.kompasiana.com/wierodjampang
Rekan TKI yang sudah masuk Saudi seolah kecanduan untuk setelah pulang ke Indonesia selalu pulang balik lagi bekerja di Saudi kembali.
Padahal bekerja di Saudi Arabia sebagai sopir rumahan atau pembantu rumah tangga sangat rentan dan riskan terhadap perlindungan keamanan diri,terbatasnya komunikasi dengan dunia luar serta jarangnya berinteraksi sosial, menjadi warna kehidupan sehari-hari seolah Terpenjara,tetapi tetap saja menjadi TKI migran di Saudi seolah punya magnet untuk menarik eks-eks atau mantan TKI untuk kembali lagi ke sini ,Saudi Arabia.
Salahsatu sebabnya karena susahnya tenaga mereka terserap oleh lapangan kerja di dalam negeri,kalaupun mereka bisa bekerja di Indonesia tetapi gajinya tidak sebanding dengan gaji TKI sebagai sopir atau PRT di Saudi.
Para sopir dan PRT yang mantan Saudi ketika sudah tiba di Indonesia menjadi canggung untuk sekedar membuka usaha atau berwiraswasta,karena ketinggalan informasi bisnisnya atau jikalau bekerja sebagai buruh sejenis pun mereka selalu membandingkan gajinya dengan gaji ketika bekerja di Saudi.
Kenyataan membuktikan bahwa bekerja menjadi sopir dan PRT di Saudi adalah lebih baik gajinya dibanding dengan gaji dalam negeri dengan macam kerja serupa.
Meskipun sebenarnya jikalau merasakan bahwa harga diri di Saudi sebagai sopir atau pembantu kurang penghargaannya, tetapi urusan perut diri sendiri dan keluarganya di tanah air memang menjadi sebuah dilema.Harga diripun seolah diabaikan,kebanyakan membuat prinsip, tak apalah berakit-rakit dahulu ,mudah-mudahan senang di kemudian hari.
Harapan TKI Saudi semoga di hari ke depannya mereka mendapat modal yang cukup untuk membuka suatu bentuk usaha dan atau malah hanya berpikir pendek saja ,yaitu asal kebutuhan keluarga hari ini tercukupi mereka menggadaikan harga diri sekalipun sebagai kuli di negeri Saudi.
Seperti kata rekan Sopir TKI asal Sukabumi,Haji Usep berikut : "Saya bukan kecanduan tetapi terpaksa pulang pergi jadi TKI Sopir di saudi,karena anak saya udah tiga orang,satu kuliah,satu SLTA satu SMP,membutuhkan biaya total sekitar Dua Juta Rupiah setiap bulannya,kalau saya nyopir angkot di Indonesia,angka tersebut tidak bisa terpenuhi,ditambah kalau kerja disini kita jadi terpaksa tidak banyak pengeluaran karena "dipenjara" dengan jam kerja yang harus ready 18 jam sehari ,'.
Terlalu banyak kalau mau ditulis tentang semua ini,tulisan ini hanyalah mengulas sebagian saja masalah sisi kehidupan yang terlalu besar untuk di ulas tentang Buruh Migran Saudi.
Pembaca selamat siang.Terima kasih telah mampir di blog yang hampir vakum sebulan penuh karena saya tak bisa meng up date posting baru.
Selamat berkarya.
Teman mampir ya ke sini :
http://www.kompasiana.com/wierodjampang
Langganan:
Postingan (Atom)
Terpopuler
-
Mindfullness pada dasarnya adalah latihan untuk sadar pada saat ini tanpa menghakimi. Setiap detik saat ini di sini disadari dengan lebih me...
-
Ketika curah hujan tinggi maka air bah yang tidak terserap oleh tanah karena terlapis beton maka hukum anomali terjadi,yaitu air mengalir da...
-
Jika tidak bijak berinteraksi dengan orang lain, baik di kehidupan nyata atau di internet bisa berbuah keburukan bahkan ada banyak kasus yan...
-
Di tengah gempuran banjir informasi disertai kemajuan super cepat perkembangan teknologi informasi yang selalu terbarukan secepat "kila...
-
Kemajuan teknologi zaman sekarang memudahkan segala urusan termasuk masalah "kemanusiaan",tata kerja,tata kelola pelayanan publik,...