![]() |
| Ilustrasi |
Hallo pembaca,yang mungkin saat ini sedang punya masalah dan hampir tak bisa ditahan dihadapi sendiri?
Lantas cari seseorang kemudian curhat menumpahkan segala susah isi hati,dan setelah curhat bukannya lega malah tambah sesak?
Kita cerita panjang lebar, berharap dimengerti. Tapi yang didapat malah di-judge, dibanding-bandingkan, atau lebih menyakitkan lagi — cerita kita pindah ke grup lain dengan versi yang berbeda.
Bukan salah curhatnya. Curhat itu manusiawi. Kita butuh didengar. Tapi mungkin, kita salah memilih telinga,salah memilih orang.
Tidak semua orang layak diceritakan luka kita. Ada adabnya. Dan adab itu yang sering kita lewati karena buru-buru ingin lega.
Sebelum kamu curcol mencurahkan isi hati dan menekan tombol telepon untuk mengadu ke siapapun, coba tanyakan 3 hal ini dulu.
1. Apakah Dia Amanah?
Jangan ukur dari seberapa dekat dia denganmu, tapi dari bagaimana dia menjaga cerita orang lain.
Coba ingat-ingat: pernahkah dia menceritakan rahasia temannya kepadamu? Jika iya, besar kemungkinan rahasiamu juga akan diceritakan ke orang lain.
Orang yang amanah itu cirinya sederhana. Dia tidak menambahkan bumbu. Dia tidak memindahkan ceritamu ke tempat yang tidak seharusnya. Bahkan saat dia sedang marah padamu, ceritamu tetap aman bersamanya.
Amanah bukan soal pintar memberi solusi, tapi soal mampu menjaga.
2. Apakah Dia Akan Menenangkan atau Malah Memanaskan?
Ada dua jenis pendengar di dunia ini:
Yang pertama adalah pendengar penengah, Dia mendengarkan, lalu berkata pelan, "Coba kita lihat dari sisi lain ya, mungkin maksudnya bukan begitu." Nasihatnya tidak selalu enak, tapi bikin hati adem dan kepala jernih.
Yang kedua adalah pendengar pengipas,Dia mengangguk cepat dan berkata, "Iya, emang dia keterlaluan! Kamu harus begini, harus begitu." Kedengarannya membela, tapi sebenarnya dia sedang menyiram bensin ke api kecil di hatimu.
Masalah yang tadinya seujung kuku, setelah curhat ke pengipas bisa jadi sebesar gunung. Hubungan yang tadinya hanya salah paham, bisa jadi putus silaturahmi.
Jika tujuan curhatmu adalah mencari ketenangan, jangan curhat ke orang yang hobi memanaskan.
Pilih yang berani berkata jujur dengan lembut, bukan yang selalu membenarkanmu.
3. Apakah Ini Waktu yang Tepat?
Seringkali kita curhat bukan di waktu yang tepat, tapi di waktu emosi sedang memuncak.Masih sedang panik.
Jam 11 malam misalnya,setelah seharian lelah, habis bertengkar, perut lapar, dan pikiran berisik. Di jam-jam itu, semua masalah terasa 10 kali lebih besar dari aslinya.
Curhat dalam kondisi itu hampir selalu berakhir penyesalan.
Coba pakai rumus sederhana ini: Tunda satu malam, tulis dulu, baru cerita.
Ambil notes di HP-mu. Tulis tiga kolom:
Faktanya apa? (Apa yang benar-benar terjadi)
Rasanya apa? : misalnya,(Aku merasa sedih, marah, kecewa karena...)
Maunya apa?: (Aku butuh solusi, atau hanya butuh didengar?)
Ajaibnya, setelah menulis, 70% keinginan untuk curhat itu biasanya mereda. Karena ternyata, sebagian beban itu cukup dibawa ke sajadah dulu, tidak harus ke manusia.
Allah adalah pendengar pertama yang tidak pernah bocor rahasianya. Curhat dulu ke Dia, baru minta tolong Dia tunjukkan manusia yang tepat untuk membantu.
Menjaga cerita adalah bagian dari menjaga hati.
Tidak semua luka harus diumumkan. Beberapa cukup disimpan, diobati pelan-pelan, dan diceritakan hanya kepada orang yang baik,amanah, menenangkan, dan di waktu yang tepat.
Jika hari ini kamu sedang menahan banyak cerita, tidak apa-apa. Kamu tidak sendirian. Kita semua sedang belajar memilih telinga, bukan hanya melampiaskan suara.
Mungkin bisa pertimbangkanlah hal berikut sebelum curhat pada seseorang.
1. Apakah dia amanah?
2. Apakah dia akan menenangkanku?
3. Apakah aku butuh solusi atau hanya butuh didengar?
4. Sudahkah aku cerita dulu kepada Allah?
Kalau kamu pernah curhat ke orang yang salah, pelajaran apa yang kamu dapat? Cerita di kolom komentar ya, biar kita belajar bareng-bareng di BernadaIndo.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar