Minggu, 21 April 2013

Bahasa Blogger dan Bahasa Baku

Dalam berbagai paparannya tentang menulis,Kang Pepih Nugraha suka menyatakan bahwa memang beda antara bahasa di media online dan di media cetak.Kalau di media cetak tentu harus menggunakan ejaan dan bahasa baku standar EyD yang baik dan benar.Tetapi di media online,bahkan di media mainstream sekalipun bahasa online suka menggunakan bahasa yang lugas,serba praktis dan kadang-kadang serba cepat,ringkas bahkan alay.

***
Ketika kita mau mempostinga di blog pribadi,tak usah takut dulu dengan banyak kesalahan atau terlalu terpaku pada kemampuan dan penggunaan berbahasa yang harus sangat baik dulu.Tulis sajalah dahulu,lalu sambil berjalan terus belajar dan diperbaiki.Jika belum menulis sudah takut salah,yah,ide menulisnya pasti sudah duluan lari menjauh,bahkan raib hilang entah kemana.

Waduh maaf jadi sedikit menggurui gan,hehe! Bukan menggurui,aslinya ini pengalaman saya ngeblog di wall yang sedang anda baca ini.

Sengaja tulisan dari sejak tanggal 5 Juni 2011 tidak saya edit-(editing) lagi,supaya saya bisa melihat segala kekurangan di saat pertama kali belajar membuka blog di sub domain blogspot.Bahkan nama blog ini sempat beberapa kali berubah nama.Pertama kali saya kasih nama wierodjampang.blogspot.com,lalu dirubah jadi nuranibernada.blogspot.com dari situ dengan bantuan saudara saya di tanah air,karena saya gaptek mencoba memakai nama domain dot com.Jadilah bernadaindo.com.Hostingnya masih tetap di blogger,hanya berganti nama domain saja dari asalnya nge-sub domain ke blogspot,kini jadi bernadaindo dot com.

Tulisannnya,waduh sangat brekele dan belepotan sekali di awal-awal memposting tulisannya.Anda bisa lihat betapa belepotannya bentuk tulisan saya di sekitar tahun-tahun awal berdirinya blog ini.

Untuk mau mengedit lagi dengan seksama,saya pernah membaca saran seorang guru menulis saya,bahwa kata sarannya :" Yang sudah salah di tulisan yang lalu di media online semacam blog pribadi,jika tidak ada terlalu banyak waktu senggang,dan kesalahannya tidak terlalu fatal,masih bisa disimak dan ditangkap maksudnya oleh pembaca,maka biarkanlah dulu! Lebih baik menulis saja postingan yang baru,melaju terus ke depan...!".

Jadi ya,kalau ada waktu saya edit lagi itu postingan jadul,tetapi prioritas ya terus melaju membuat postingan anyar saja dengan sekuat tenaga lebih baik dari postingan yang dulu-dulu.Baik dari bentuk tulisannya maupun dari esensi dan substansi tulisannya.

" Wong ini namanya media online kok,salah ketik (typing error) dikit mah atau salah pemenggalan alinea,biarin saja dulu,mendingan waktu yang ada dibuat untuk membuat postingan baru lagi yang lebih baik..!" lagi-lagi terngiang suara saran guru belajar menulis itu.

Hari gini kan pembaca online secepat kilat mau mengklak-klik tulisan kita.Perbanyaklah konten kalau mau terus ada pengunjung.Konten asli buatan sendiri tentunya.Begitulah petatah petitih selanjutnya guru-guru saya.Entahlah ini benar atau enggak,hehe.

Meskipun begitu,langkah tersebut untuk diawal-awal jadi blogger.Tentu saja,semua kaidah yang baik akhirnya harus terus belajar dan diamalkan.Jangan terlalu bebas tidak karuan.Maksud guru-guru kami mungkin,untuk mengasah menuangkan ide saja dulu,perkara bentuk tulisan dan ejaaan,bisa dibetulkan nanti,bisa diedit lagi dikemudian hari jika di media online.

Selamat mencoba terus menulis bagi teman dan sahabat yang sama seperti saya,kaum awam menulis dan masih belajar menulis gaya tulisan blogger.Dan tentu saja kasih ilmunya ya gan,bagi agan-agan yang memang sudah kampiun,sudah ahli dan pakar di bidang tulis menulisnya.

Kepada para penulis yang sudah membagikan ilmu menulisnya di website atau blog-blog pribadinya,atau di jaringan pribadinya,saya haturkan terima kasih,Semoga menjadi amal baik bagi Anda semua.

Salam silaturahmi,salam blogger.

Sabtu, 20 April 2013

Apa Jadinya jika Wartawan Portal Berita Menanggapi Komentatornya?

Komentator (yang mengomentari suatu postingan atau artikel di media online),di media internet saat ini sudah memprihatinkan sekali.Jangan kata di blog-blog komunitas yang nota bene interaksi dua arahnya sangat dekat dan langsung menuju akun pengirim tulisannya.Di portal berita saja sudah demikian membabibuta komentator iseng tersebut.

Taruh saja misalnya,ketika ada wartawan yang memberitakan suatu peristiwa tertentu sesuai hasil temuannya,maka komentar di bawahnya pasti suka ada yang tidak nyambung.

Yang tidak nyambung dan tidak setia pada topik sudah biasa,ngawur,lah ini yang lebih parah banyak komentar yang menyerang si penulisnya.Menyerang wartawan atau editornya,misalnya wah berita gak mutu ginian kok dimuat ? Perlu belajar lagi nih wartawannya,atau yang lebih pedas ini wartawannya gak ada berita lain ya? dan sebagainya.Atau menyerang media yang memuatnya.

Padahal,kalau kita menyadari mereka kan hanya mewartakan,ya sudah,mau tertarik atau tidak silahkan,Jika tertarik ya baca,jika tidak tertarik ya lewatlah,klik artikel yang lainnya.

Tapi yaitulah ini internet cuy...! hehe! Maaf ini internet gan..! Begitulah adanya.Nah lalu bagaimana sikap para pengelola media dan wartawannya,dengan komentar sok pintar namun konyol seperti ini ?

Ya,mereka jalan terus saja.Coba kalau terus melawan pancingan perdebatan mereka.Bisa-bisa wartawan itu tak dapat berita baru lagi,karena sibuk mengurusi para komentator.

Begitupun di blog keroyokan atau blog pribadi,jika menemukan komentar dan tanggapan yang "ngawur''begitu, ya biarin saja,Kalau mau dihapus saja,atau biarkan saja tanggapi seperlunya.Buang-buang waktu saja melayani macam begituan.

Di Internet,Isu Global Pengaruh Juga ke Tulisan Kita

Saat dunia internet seperti sekarang sedang booming-boomingnya,ketika kita sudah menjadi bagian dari masyarakat internet,mau tidak mau harus pula menerima konsekuensinya.Yaitu ketika opini atau bahkan reportase sekalipun hasil tulisan kita,harus siap-siaplah ada yang suka dan ada yang engggak suka.

Masyarakat internet terdiri dari berbagai rupa dan macam perbedaan,mulai dari perbedaan umur,perbedaan latar pendidikan,perbedaan budaya,adat istiadat,perbedaan suku,agama,ras hingga perbedaan pengalaman dan cara belajar serta pandangan hidup masing-masing.

Hal tersebut membuat sebuah opini atau tulisan yang dilempar ke ranah internet dan bisa diakses oleh umum,akan menuai berbagai tanggapan.Baik tanggapan yang berupa komentar langsung di kolom dinding publiknya atau tanggapan tidak langsung di bentuk lainnya.

Ulasan atau opini,postingan dan tulisan yang kita sampaikan ke publik internet,bahkan dengan hanya memposting tulisan pengalaman pribadi saja,satu atau dua gelintir pembaca pasti akan ada yang kontra bahkan tidak sedikit yang menghujat tulisan kita.Padahal hanya menuliskan pengalaman pribadi saja.Hehe..ampuun internet!

Apapun,bagaimanapun,sebaik atau sebagus apapun bentuk,tema,topik,atau substansi sebuah tulisan kita,maka yang kontra bahkan menghardik dan mencela akan selalu ada.Karena bervariasinya berbagai latar belakang para pembacanya.

Misalnya,saya sebagai TKI yang sedang tinggal di Riyadh ,KSA.Ketika mengirim tulisan tentang pengalaman saya pribadi yang berkaitan dengan Saudi,dengan harapan agar ada manfaatnya untuk sesama,tidak jarang banyak yang menyalahartikan maksud dan esensi tujuan tulisannya.

Mereka suka menggeneralisir bahwa ketika saya menulis tentang Saudi,artinya saya pro Islam,pro Saudi dan atau lebih jauhnya saya sebagai penganut apa yang mereka katakan kaum wahabi.Atau yang lebih pedas mencap saya yang pro negeri onta,tidak mencintai tanah air dan sebagainya,wuah kelewatan sekali bukan ?

Hehe,memang lucu jadinya.Dan saya menyadari itulah resikonya kita bermain di dunia maya internet.

Harus siap dengan itu,menghadapinya dengan bijaksana,membutuhkan semangat kesabaran yang tinggi.Jika kita tidak siap dikomentari atau direspon berbagai jenis respon publik di internet,maka saya sarankan sudahlah kita tidur saja,jangan bermain di sana.

***
Apalagi kesempatan di internet untuk membuat akun-akun dengan nama anonim dan anonymous atau memakai nama samaran,bahkan memakai nama palsu.Jadi komentar mereka yang entah karena iseng saja,atau memang sungguhan bahkan bisa dengan bebas mencaci maki atau menjatuhkan seseorang atau menentang substansi tulisan dengan membabibuta.Sudah tidak lagi memakai etika.

Etika...? Wah,jangan berharap terlalu banyak dengan etika berkomentar jika di ranah maya internet.Karena sebab itu tadi.

***
Seterusnya,tulisan di internet sangat rentan dengan perbuatan copy paste yang tidak bertanggungjawab,menjiplak seenaknya dan mengcopypaste seenaknya pula.Hal ini tidak bisa kita hindari,ya begitulah resikonya,

Makanya di Wikipedia,disarankan jika mau mengisi tulisan di sana disarakan agar kepada para anggotanya "jangan menulis atau membuat artikel sebagai hasil penelitian pribadinya di internet yang dapat dibuka publik !",karena situs besar tersebut sudah mengetahui bahwa di internet rawan plagiat dan jiplak menjiplak dengan mudah.

Meskipun di widget atau teknis blog ada juga cara mengunci tulisan supaya tidak bisa dicopy paste,itu hanya sebatas kunci kepada pengguna internet awam saja,Bagi yang sudah ahlinya teknologi internet sebuah hal mudah untuk menjebol mengcopipaste sebuah blog yang diberi widget anti copy paste sekalipun.

Jadi,jangan tayangkan hasil penelitian Anda di internet,jika hasil penelitian Anda itu mau aman tidak mau diplagiat orang jahat.

***

Selamat berinternet sehat sodaraku semua,salam hangat,salam berbagi.


Terpopuler