Selasa, 04 Juli 2023

Sepeda Kopi atau Kopi Sepeda

Kawasan kota Jakarta pusat "dikuasai" oleh jaringan group pedagang kopi instan memakai sepeda.

Sepeda bukan kendaraan bermotor,terus bisa didorong di panggul jika perlu kalau bertemu jalan buntu.

Sepeda di jalanan kota tidak dilarang seperti kendaraan Becak zaman dahulu,khususnya di wilayah DKI Jakarta 

Memanfaatkan jarak terlalu jauh ke kios atau warung di komplek perkantoran atau tempat wisata dan gedung-gedung mewah di daerah ini,para pedagang kopi instan menggunakan sepeda untuk tempat berjualannya.

Selain bersifat mobile,jualan kopi instan di sepeda dianggap lebih lincah dan praktis untuk menembus pasar konsumen kopi murah instan di antara antar gedung dan kantor yang memang tidak ada mengijinkan ada warung atau kios di depannya.

Sedangkan pejalan kaki dan pegawai atau karyawan membutuhkan minum kopi untuk sekedar jeda istirahat atau menemani mereka nongkrong di depan kantor.

Kreatif dan tentu salut kita pada semangat berusaha mereka ini.

Meskipun sedikit agak runyam hehe untuk pemandangan di trotoar bersih dan rapi,tetapi kadang saya juga jajan ngopi membeli pada mereka.

Seduh kopi hitam,guyur air panas dari termos dan kopi instan siap diseruput walau hanya diseduh di cup plastik tipis yang jika tak hati-hati bisa luber itu air kopi panasnya.

Untuk harga mereka mematok harga pasaran sama dengan harga kalau kita membeli dari warung kopi di ujung gang atau kampung kita.

Selamat berjuang kawan,jangan lupa bawa selalu tempat sampahnya,jaga kebersihan dan kita semua menjemput rezeki dari segala jalan dan bentuk usaha.

Semoga halal dan berkah,hasilnya untuk menghidupi anak istri,bahkan ada yang mampu membiayai kuliah anaknya hasil dari berjualan kopi instan bersepeda di kota Jakarta.

Ini sebagian aktivitas mereka saya foto di jalan Cikini Raya Menteng Jakarta pusat.

Pedagang Kopi Sepeda di Cikini
Jakarta Pusat ( Foto milik bernadaindo)


Di Cikini Jakarta Pusat

Bangun Saat Fajar Langsung Sarapan

Kakek dan nenek kami,saat ini usianya mungkin 85 sampai 90 tahun.Umur sekian sudah rada pikun tetapi pendengaran dan penglihatan masih terbilang bagus.

Mereka zaman dahulu hidup di perkampungan letak rumahnya di atas bukit tetapi subur dan hijau.

Rumah panggung besar ukuran di masa itu,kalau ke WC harus ke jamban umum kurang lebih sepuluh atau dua puluh meter di bawah rumah.

Sumber airnya dari sumur mata air alami di bawah pohon Kiara dan Beringin yang sudah tua,akarnya seperti jenggot orang tua kalau malam sungguh seram suasananya.

Mata air pegunungan belum tercemar polusi,di punggung bukit masih banyak pohon besar,rumput rimbun akar-akar bessar membelit pepohonan yang merupakan sumber air minum untuk penduduk sekitar.

Sering  melihat paman-paman saya dan pemuda petani jika pulang dari sawah tengah hari,sambil sekalian mandi sebelum shalat Dzuhur mereka meminum air langsung dari dekat mata airnya yang bersih jernih alami.

Tidak membuat mereka sakit,bahkan beberapa dari mereka badannya kuat,berotot,langsing tapi berisi,kurus tetapi sehat,karena setiap hari otot mereka terlatih bekerja keras di kebun atau sawah dan setiap hari mereka berkeringat.

Seperti tentara yang baru lulus dari pendidikan tantama,otot mereka kuat,legam,dan tahan kuman atau bahkan jika dipukul oleh bata merah pasti bata merah akan patah.Badan bukan berotot terbentuk karena fitnes tetapi terbentuk karena alam,karena aktivitas fisik bergelut dengan sinar matahari,panas terik,hujan,lumpur dan cangkul,otot berisi seperti Gatot kaca.

Otot kawat tulang besi.....terbentuk alami.

Itu salah satu kebiasaan yang menunjang kesehatan orang kampung zanan dahulu.Sebelum ada WC di dalam rumah,sebelum ada handphone yang mengundang terus rebahan merusak mata dan tubuh jarang bergerak apalagi berkeringat.

Zaman itu bepergian banyak berjalan kaki,berangkat bekerja jalan kaki bahkan tanpa alas kaki.

Anak sekolah dari rumah ke gedung SD terdekat ada yang berjarak tiga bahkan lebih dari lima kilometer.

Masuk SMP apalagi,biasanya letak sekolah jadi lebih jauh,dicapai pada umumnya dengan berjalan kaki,karena jalan desa belum diaspal,mobil angkot belum ada,motor masih langka dan merupakan barang mahal,jika bisa beli pun jalanan kampung masih belum bisa dilalui motor 

Itu terjadi sampai tahun 1990an,masih banyak kondisi demikian.

Efeknya ke kesehatan tubuh urang kampuang saat itu,Tubun jadi kuat,sehat dan banyak yang umurnya panjang karena secara tidak langsung kondisi saat itu pola hidup mereka masih alami,oksigen alami masih bersih,tubuh banyak bergerak,berkeringat dan makan minum belum banyak mengonsumsi makanan yang terpapar kimia.

Waktu dan masa tidak mungkin kembali,yang telah lewat era tersebut sudah lampau,pada masa kini lebih modern,lebih maju lebih mudah,lebih canggih dan tentu lebih baik dari zaman dahulu.

Namun,meskipun saat itu masih darurat dan zaman kuno,tetapi banyak hal yang bisa kita ambil manfaatnya untuk kebahagiaan hidup kita saat ini.

Diantaranya memiliki badan dan jiwa yang sehat,dengan bergaya hidup sehat ala zaman orang tua 30 atau 50 tahun yang lalu.

Sebenarnya banyak kebiasaan dan budaya orang tua zaman dahulu yang bernilai baik untuk kita tiru saat ini.Satu persatu mungkin akan penulis gali dan dimuat di blog ini sekemampuan dan sepengetahuan saya.

Misalnya,pola tidur cepat paling lambat jam 10 malam atau pukul 22.00 lalu bangun jam 3 atau 4 pagi saat fajar mulai akan terbit,dan.....sarapan wajib walau hanya sepiring nasi tanpa lauk.

Lalu menjaga makan dan minum dari bahan makanan yang kalau bisa bahannya yang masih alami atau dipastikan tidak tepapar zat kimia pengawet dan sebagainya.

Banyak bergerak,terkena sinar matahari,berkeringat dan tentu saja berserah diri secara keyakinan kepada Tuhan setelah ibadah lahiriahnya ditunaikan.

Bergerak,bermanfaat,bekerja,beribadah.......!
Hasilnya berserah kepada kehendak Alloh.

Bangun subuh,sarapan,sembahyang,olahraga dan berangkat bekerja.....atau mengurus rumah tangga bagi ibu rumahtangga....selamat pagi semua..! 

Senin, 03 Juli 2023

Jakarta-Bandung Bus AC Ekonomi 80 Ribu

Hingga 1 Juli 2023 pantauan penulis yang menggunakan jasa Bus AC ekonomi MGI dari Terminal Leuwipanjang sampai Pasar Rebo kampung Rambutan Jakarta,kondektur menarik ongkos Rp.80.000,00 per penumpang.

Tarip lebih mahal mungkin mungkin terjadi berbeda antara 10 atau 20 ribu untuk Bus AC exclusive,dengan jurusan yang sama.

Pada saat Idul.Adha 29 Juni kemarin tidak ada kenaikan khusus tarif bus Antar Kota Antar Provinsi.

Kelas ekonomi ber AC tujuan Cianjur dari Jakarta Kampung Rambutan dikenakan tarif Rp.50.000,00.

Semua rute tersebut via jalan Tol,kalau dari Bandung melalui Tol Padalarang Cikampek atau Purbaleunyi-Japek utama dan lingkar luar berakhir di pintu keluar Rambutan.

Begitupun rute Cianjur dari Jakarta melalui Tol Jagorawi banyak didominasi oleh P.O Marita.

Demikian sekilas info,menurut pengalaman penulis memakai jasa angkutan Bus dari Jakarta Pasar Rebo kampung Rambutan ke Bandung atau Cianjur.

Sementara dari Cianjur ke Bandung tarif Bus AC ekonomi rata-rata dtarik ongkos sekitar  Rp.33.000-Rp.35.000,00.

Semoga bermanfaat 

Terpopuler