Sabtu, 18 April 2026

Bandung dan Banjir

Ketika curah hujan tinggi maka air bah yang tidak terserap oleh tanah karena terlapis beton maka hukum anomali terjadi,yaitu air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah.

Dan di semua tempat jika saluran tersumbat maka air menggenang di tempat rendah tersebut.Dalam kenyataan di tempat rendah tersebut sudah banyak dibangun pemukiman dan hunian manusia,maka terjadilah masalah.

Genangan air itu mengganggu aktivitas dan kehidupan kita.Banjir kita orang menyebutnya.

Banjir menjadi masalah di hampir seluruh kota dan tempat ramai manusia.Terutama terjadi di lingkungan kota besar bahkan di perkampungan yang kontur tanahnya berada di daerah rendah.

Banjir di kawasan Bandung Selatan terutama di daerah Baleendah,Ciganitri,sampai ke Dayeuhkolot sudah sejak lama menjadi hal yang dianggap biasa oleh penduduk di sana.

Banjir terjadi ketika musim hujan dan ketika kemarau kawasan jadi tidak banjir,kondisi demikian membuat semua pihak kadang melupakan saat banjir tiba.

Hanya pada musim penghujan semua ribut dan ramai membahas banjir,namun musim hujan berlalu seolah masalah pun perlahan memudar didiskusikan orang.

Begitulah seperti lingkaran yang dibahas dimasalahkan ketika musim hujan lalu dilupakan setelah tidak hujan dan ramai lagi diperhatikan ketika banjir tiba di musim hujan berikutnya.

Pemerintah setempat sangat intens menanggulangi ketika musim banjir tiba lalu musim hujan selesai penanggulangan pun mulai kendor,sebab daerah yang tergenang air sudah mulai normal kering dan aktivitas warga normal kembali.

Perhatian yang menyeluruh dan paripurna tidak terjadi sebab banjir sudah selesai.

Dan akan sibuk lagi manakala musim hujan berikutnya tiba.

Masalah klasik sampah misalnya,ketika tidak sedang musim banjir, kesadaran akan membuang sampah dan budaya buang sampah tidak sembarang sangat rendah.

Warga banyak membuang sampah sembarangan.Buang sampah ke sungai,ke pinggir jalan,ke kebun atau rawa pinggir jalan atau ke kavling yang belum ada bangunan warga banyak yang belum sadar mereka membuang sampah di situ.

Kedua,normalisasi sungai dan sodetan yang sudah ada suka terlambat dilaksanakan.Belum ada normalisasi yang berkesinambungan terus dengan teratur dan tegas menertibkan bantaran sungai dengan baik.

Ketiga, pengendalian ketat pembangunan di hulu dan kawasan dataran tinggi sebelah Utara Bandung misalnya, pembangunan yang tidak memperhatikan dampak buruk di kawasan lereng Utara Bandung sangat menyumbang paling tinggi penyebab terjadinya banjir di Kota Bandung.

Mungkin selain partisipasi dan kepedulian semua warga untuk menanggulangi banjir di Bandung tak kalah penting juga kita memerlukan pemimpin dan pemerintah yang lebih memperhatikan masalah banjir di Bandung khususnya.

Dimulai dari sangsi tegas kepada pembuang sampah sembarangan, penertiban Daerah bantaran sungai, pengerukan dan pemeliharaan sungai dan sodetan yang sudah ada, perizinan yang ketat pembangunan di kawasan hulu,dan pembinaan kebiasaan buang sampah yang tertib dan itu semua dilakukan secara terus menerus,baik pada musim hujan atau pada musim kemarau.

Catatan: Tulisan ini hanya opini penulis yang menyaksikan banjir setiap hari di banyak kawasan Bandung jika hujan turun di kota ini.

Salam.




0 Comments :