Kalau dengar nama Sengkuni, apa yang ada di benak kita? Tokoh wayang yang licik, bermuka dua, pintar memutar kata, dan ahli dalam mengadu domba. Dalam cerita Mahabharata, dialah dalang di balik hancurnya keluarga besar Pandawa dan Kurawa. Dia tidak pernah angkat pedang sendiri, tapi dengan bisikannya, satu kerajaan bisa hancur berantakan.
Banyak orang mengira Sengkuni hanya ada di cerita wayang, di layar kelir semalam suntuk. Padahal kalau kita jeli, Sengkuni ada di sekitar kita. Hidup di keseharian kita. Bahkan mungkin, kita pernah bertemu dengannya kemarin.
Bedanya, Sengkuni zaman sekarang tidak pakai mahkota emas dan kain batik. Dia pakai baju kerja, pakai daster, pakai seragam karyawan, bahkan pakai status saudara.
1. Sengkuni di Tempat Usaha: Orang Dalam yang Menikung.
Ini adalah wajah Sengkuni yang paling sering ditemui pelaku UMKM.
Ceritanya begini. Ada seorang pemilik warung di Buahbatu, Bandung. Warungnya baru buka 2 tahun, tapi sudah ramai karena sambal buatannya enak. Dia punya satu karyawan yang sangat dipercaya, sebut saja si A. Si A ini sudah dianggap adik sendiri. Diajari cara membuat sambal, dikasih tau tempat kulak cabai murah, dipercaya pegang uang kas saat pemilik sedang tidak ada.
Karena merasa sudah sangat dekat, pemilik warung ini sering curhat, "Bulan ini untung sekian, alhamdulillah bisa kebeli motor."
Setengah tahun kemudian, si A resign dengan alasan mau pulang kampung. Dua minggu kemudian, tepat di seberang gang warung itu, muncul warung baru dengan menu yang sama persis, sambal yang rasanya 90% mirip, dan harga lebih murah 2 ribu. Dan yang lebih sakit, si A menghubungi pelanggan-pelanggan di WhatsApp warung lama, "Kak, beli di aku aja ya, aku kasih bonus."
Itulah Sengkuni. Dia tidak mencuri dengan kekerasan. Dia mencuri dengan kepercayaan yang kita berikan sendiri. Dia datang sebagai orang yang ingin belajar, tapi tujuannya adalah mengambil alih.
Ciri Sengkuni di usaha: di depan memuji bos setinggi langit, di belakang menjelekkan bos ke karyawan lain. Di depan bilang "Siap Bos", di belakang dia bocorkan resep dan data pelanggan ke orang lain.
2. Sengkuni di Lingkaran Pertemanan: Si Tukang Adu Domba.
Bentuk kedua, Sengkuni ada di lingkaran pertemanan dan nongkrong.
Kita pasti punya satu teman yang kalau ada dia, suasana jadi tidak enak. Ketika kita tidak ada, dia cerita keburukan kita ke teman lain. Ketika teman lain tidak ada, dia cerita keburukan teman lain ke kita. Akhirnya, satu tongkrongan yang tadinya kompak, jadi saling curiga.
Kalimat khas Sengkuni di pertemanan adalah: "Eh, sebenernya gue gak mau ngomong, tapi si Anu ngomongin lo kemarin."
Kalimat itu terlihat seperti membela kita, padahal itu adalah bensin yang dia siram agar api permusuhan menyala. Dia menikmati ketika dua orang teman berantem karena ulahnya. Dia merasa paling penting, paling tau segalanya.
Tujuan Sengkuni jenis ini sederhana: agar dia tetap menjadi pusat perhatian. Jika semua teman akur, dia tidak dibutuhkan. Jika semua teman berantem, semua orang akan datang ke dia untuk curhat.
3. Sengkuni di Keluarga: Dalang Halus yang Memecah Warisan.
Yang paling menyakitkan, Sengkuni bisa hadir di dalam keluarga sendiri.
Sering kita dengar cerita keluarga besar yang rukun selama puluhan tahun, tiba-tiba pecah hanya karena masalah warisan sebidang tanah atau toko peninggalan orang tua. Di tengah keributan itu, biasanya ada satu orang yang perannya seperti Sengkuni.
Dia tidak terlihat paling rakus, tapi dia yang paling rajin membisik. Kepada si kakak dia bilang, "Kak, adikmu itu gak pernah ngurus orang tua, kok dia mau minta bagian sama?" Kepada si adik dia bilang, "Dik, kakakmu itu sudah kaya, masih mau ngambil jatahmu juga?"
Padahal, baik kakak maupun adik sebenarnya tidak berpikir sejauh itu. Tapi karena bisikan Sengkuni setiap hari, rasa curiga tumbuh, rasa iri membesar, hingga akhirnya keluarga yang dulu makan sepiring berdua, kini tidak saling sapa.
Sengkuni di keluarga adalah orang yang merawat kebencian, bukan merawat silaturahmi.
Lalu, Bagaimana Cara Menghadapi Sengkuni di Keseharian?
Kita tidak bisa menghilangkan Sengkuni dari dunia. Dalam setiap cerita, akan selalu ada tokoh licik. Dalam pertunjukan wayang tidak ramai atau akan sepi jika tak ada tokoh Sengkuni.Yang bisa kita lakukan adalah memperkuat diri agar tidak mudah diadu domba.
Pertama, Jangan Umbar Semua Kartu.
Dalam wayang, Pandawa kalah judi karena terlalu jujur. Dalam hidup, jangan ceritakan semua rahasia dapur, baik itu omzet usaha, masalah keluarga, maupun rencana masa depan, kepada semua orang. Berbagi cerita itu baik, tapi harus tahu kepada siapa. Tidak semua telinga pantas mendengar rahasia kita.
Kedua, Buat Sistem Bukan Cuma Percaya.
Ini khusus untuk usaha. Kepercayaan itu penting, tapi sistem itu wajib. Pisahkan uang pribadi dan uang usaha. Catat keluar masuk barang. Ada perjanjian tertulis. Dengan sistem, ciptakan sistem yang Sengkuni tidak punya celah untuk bermain. Karena semua tercatat jelas.
Ketiga, Tabayyun, Jangan Langsung Percaya Bisikan.
Ketika ada seseorang yang datang membawa cerita buruk tentang orang lain, jangan langsung percaya. Datangi orang yang diceritakan, tanya langsung. Kebanyakan adu domba Sengkuni akan hancur jika kita berani melakukan tabayyun atau klarifikasi. Sengkuni paling takut jika korbannya saling bicara langsung.
Keempat, Jaga Jarak dengan Elegan.
Kita tidak perlu memusuhi Sengkuni secara terang-terangan. Cukup jaga jarak. Kurangi akses dia terhadap informasi penting kita. Tetap bersikap baik, tapi jangan lagi memberinya kunci rumah kita.
Pada akhirnya, Sengkuni adalah guru terbaik. Kehadirannya yang menyakitkan mengajarkan kita satu hal yang mahal: untuk lebih selektif memilih siapa yang boleh masuk ke lingkaran dalam kehidupan kita,dan selektif siapa yang baik untuk masuk ke lingkaran kita.
Tidak harus berburuk sangka tetapi waspada.
Karena tidak semua yang tersenyum di depan, ikut mendoakan kebaikan bagi kita di belakang.
Semoga kita semua dijauhkan dari Sengkuni-Sengkuni di keseharian, dan semoga usaha, pertemanan, serta keluarga kita tetap rukun dan rezeki lancar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar