Jumat, 30 Juni 2023

Tamu Bukan Muhrim Suami Tidak Ada,Terima Dimana?

Jika dua orang berlainan jenis berduaan di satu ruangan,maka disitu hadir setan atau iblis yang cenderung akan menggoda untuk berbuat tidak baik atau jinah.

Maka sebaiknya jika seorang istri kedatangan tamu seorang pria pada saat suami tidak di rumah,tamu disapa jika harus menunggu maka dipersilahkan menunggu di kursi teras rumah yang terbuka atau disuruh datang lagi setelah suaminya pulang ke rumah.

Atau sebaliknya jika anda sebagai pria yang akan bertamu ke seseorang,ketika sampai rumahnya hanya ada istrinya,seharusnya tahu diri kita pamit dan menunggu di luar rumah mereka sehingga sampai suaminya datang.

Atau bisa saja kita mengajak saudara kedua pihak untuk menemani menunggu yang kita maksud datang atau hadir.

Dengan demikian Marwah dan kehormatan tamu ataupun pribumi tetap terjaga.

Pada saat ini teknologi telepon dan komunikasi sudah maju,maka ketika mau bertamu buatlah janji pertemuan dengan yang bersangkutan,setelah dipastikan ada dan bisa bertemu barulah kita bisa bertamu.

Demikian salah satu hal untuk menjaga keutuhan rumah tangga,tidak baik dan dilarang ada pihak ketiga hadir di dalam sebuah aktivitas rumah tangga tanpa kesepakatan kedua pihak,suami dan istri dan wajib tetap menjaga etika serta mencegah terjadi hal buruk atau jahat dikarenakan ada faktor kesempatan,yaitu kesempatan hanya berdua dalam satu ruangan atau tempat.

Semoga bermanfaat.

Sukses Sebagai Rahmatan Lil Alamin

Menjadi Rahmat dan pembawa manfaat bagi alam semesta adalah sukses paling tinggi bagi hidup dan mati seseorang.

Dalam bahasa sederhana,seseorang yang pasti bahagia dan nanti diberi sorga ketika rohnya sudah terpisah dari raga,salah satunya adalah manusia sukses sebagai pembawa Rahmat,pembawa kebaikan ketika masih hidupnya bagi alam semesta.

Dimana pun,kapanpun orang begini berada,dia selalu bermanfaat bagi dirinya,bagi saudaranya,bagi keluarganya,bagi tetangganya,bagi alam semesta.

Orang shaleh atau orang baik,bermanfaat bagi anak istrinya,bagi orang tuanya,bagi keluarganya termasuk sopir,satpam,atau pembantu rumah tangganya 

Dia bermanfaat di lingkungan rumahnya,selalu jadi sumber manfaat bagi kelestarian alam,dia hari-harinya selalu menebar manfaat.

Orang yang begini memang harus sudah selesai dengan dirinya sendiri,secara fisik materil juga secara moril spiritual,sudah hampir mencapai status insan Kamil.

Ibadahnya tetap sesuai kodratnya,mungkin dia bisa sebagai,pedagang,sebagai pegawai negeri,sebagai pegawai karyawan pabrik,sebagai guru,sebagai wartawan,sebagai ojek onlen,sebagai penarik becak,sebagai apapun sesuai takdirnya dia hidup sebagai apa.

Sesuai dengan levelnya,semua status itu diarahkan kepada jadi bermanfaat bagi dirinya,sedekah jariyah dan menolong orang lain,menyelamatkan alam adalah tujuan hidupnya,dan sebelumnya dia sudah berhasil duluan menjadi dirinya sendiri.

Sesuai level hidupnya,secara materi dia sudah cukup,secara keimanan dan spiritual sudah menyadari diri sendiri,sudah menemukan diri sendiri,sudah mampu mengendalikan diri sendiri.

Selalu semangat berbagi kebaikan seusai kemampuan,menolong sesama selalu dilakukan baik oleh pikiran,tenaga dan harta yang dimilikinya.

Tentu mencapai hidup begini sangat tidak mudah,tetapi bisa dilakukan.Tidak mudah karena sebelum berbagi dengan orang lain,dia harus selesai dulu dengan diri dan keluarganya sendiri.

Menolong dan sedekah jariyah itu,lebih utama adalah kepada orang dekat dahulu,artinya kepada lingkaran terdekat,bisa keluarga saudara dan atau terdekat secara anggota rumah tangga,ada anak,istri,suami,pembantu,sopir,security,tukang kebun,orang tua,tetangga,sanak saudara terdekat,lalu baru kepada siapapun diamanapun.

Menolong dan berbagi rezeki,sedekah jariyah tidak ada motivasi selain hanya ingin bermanfaat dan mengharap ridlo Illahi.

Menolong dan membantu setelah diri dan keluarga juga mesti diperjuangkan sejak awal untuk sukses dan mandiri dahulu,cukupkan dulu diri sendiri lahir dan batinnya,baru kemudian kita berbagi untuk semesta jika untuk berbagi harta atau materi.

Tentu tidak bijak jika kita tebar sedekah dari hasil hutangan,atau keluarga sendiri masih kekurangan,atau berbagi demi hasrat politik atau ada keinginan untuk dipuji dan dihormati orang lain,hal demikian bukan pujian yang akan didapat tetapi malah cemoohan dan ejekan yang lambat Laun akan dterima,karena niatnya berbagi tujuannya ingin mendapat balasan makhluk.

Berbagi manfaat dan ber Agi materi atau harta sebaiknya,.....sebaiknya,setelah selesai dulu dengan diri sendiri dan keluarga.

Menolong berbeda lagi,jika sifatnya menolong untuk yang darurat,yang bisa kita tolong dengan harta,tenaga atau pikiran tentu tidak mengenal waktu atau batas,wajib kita tolong sesuai kemampuan kita.

Maksud penulis,hidup bermanfaat secara berkelanjutan sekama hidup kita wajib juga kita menata diri kita terlebih dahulu.

Cukupkan ilmu dan spiritual kita agar niat tidak melenceng dari niat hanya karena Alloh,setelah itu urusan materi perkuat pemenuhan kebutuhan pokok diri dan keluarga,kumpulkan harta untuk ditebar manfaat kemudian dan berlanjut hingga kita mati.

Setelah iman kuat,harta banyak,atau harta ada,ilmu ada,keluarga sejahtera,maka berbahagialah jika kita bisa menebar berbagai manfaat ke alam semesta.

Diri dan harta kita selalu menebar manfaat dimanapun berada,kapanpun dan kepada siapapun sesana makhluk Alloh.

Subhanallah,semoga kita bisa beribadah dan hidup demikian.

Selamat Idul Adha,maafkan kami lahir bathin.

Rabu, 28 Juni 2023

Jadi Orang Baik?

Sering bingung,darimana memulai jadi orang baik ?

Ya,dari diri sendiri.Awali dari niat yang baik,pikiran baik,semangat yang baik dan berakhlak baik atau mulia.

Jadi manusia berakhlak mulia...! Manusia yang sempurna tentu tidak akan ada,kecuali Nabi kalau menurut keyakinan Islam.

Tapi secara umum manusia sempurna hampir mustahil,selalu akan ada kesalahan yang disengaja atau tidak disengaja.

Dari hal kecil dan keseharian saja,kita bisa memulai untuk berusaha jadi orang baik,agar hidup kita bahagia.

Bahagia dan bisa membahagiakan orang lain,bermanfaat untuk alam semesta,dengan begitulah hidup akan bermakna.

Mari batasi ukuran bahagianya,yaitu bahagia dan tidak sengsara hidup di dunia ini,dengan usaha kita menjadi orang baik.

Bisa dimulai dari diri sendiri,menerima diri sendiri saat ini,misalnya sekarang Anda sebagai apa,sedang jadi apa...?

Mungkin kamu sekarang sedang jadi suami atau sedang jadi istri...? Maka jadilah suami yang baik,jadilah istri yang baik.

Anda mungkin sedang jadi Mahasiswa,wartawan,pelajar,pejabat,bupati,walikota,camat,RT,pengusaha,sopir,pembantu,cleaning servis,manajer,petani,peternak,sedang jadi caleg,sedang jadi legislatif,sedang jadi polisi,tentara,hakim,jaksa,sopir angkot,tenaga kesehatan,penjaga toko,sedang jadi apa anda saat ini.....?

Mulai dari situ,jadilah polisi yang baik,jadilah pejabat yang baik,jadilah ojek onlen yang baik,jadilah ibu rumah tangga yang baik,jadi pedagang yang baik,pengusaha,sopir angkot,peternak,sopir taksi bahkan pensiunan jadilah orang baik....!

Berakhlak mulia,tidak sombong,gemar menolong,tidak iri dengki,tidak dzhalim,tidak berkhianat,bertutur kata dan bertingkah laku sopan santun,adil dan bijaksana,sayang dan bertanggungjawab kepada sanak keluarga,membayar hutang jika punya hutang sampai lunas,bersikap dan bergaul baik dengan tetangga,dengan siapapun.

Tidak merugikan dan tidak merepotkan orang lain,suka membantu yang sedang kesusahan,itu contoh hal-hal yang membuat hidup bisa jadi orang baik,dan untuk hidup bisa bahagia.

Terlalu luas dan panjang jika dibahas untuk menjadi orang baik.

Mungkin Anda bisa belajar dan tambah wawasan dari sumber lain,dan saat ini sangat terbuka untuk mencari pengetahuan apapun termasuk cara menjadi orang baik.

Dan yang paling penting langsung diamalkan,langsung praktek jadi orang baik.Setumpuk ilmu kebaikan setinggi studi Anda dengan keilmuan kebaikan jika tidak diamalkan percuma saja,tumpukan ilmu yang tidak diamalkan sama saja nilainya dengan maaf-sampah- yang tak berguna,bahkan untuk diri sendiri pun tak ad manfaat jika tidak diamalkan tidak dipraktekkan.

Mulai dengan jadi suami yang baik,jadi istri yang baik,jadi boss yang baik bagi pegawai Anda.

Perhatikan orang terdekat,bantu dan jadilah bermanfaat bagi mereka.

Teruuusss...meluas dan melebar,menebar kebaikan,mulai berbuat baik untuk diri sendiri,untuk keluarga,untuk warga sekampung,seDesa,kota,negara,bangsa,dan menebar kebaikan kepada alam semesta bukan saja kebaikan kepada sesama manusia saja,tetapi tebar kebaikan ke alam semesta,lingkungan dan sekitarnya,....mari rasakan praktekan dan buktikan Anda akan hidup bahagia.

*Disarikan dari berbagai sumber dan pengalaman hidup penulis.Wallohualam.

Terpopuler