![]() |
| Muraqabah bisa menenangkan hati dan pikiran. |
Saya baru sadar, saat tidak ada uang, yang paling berisik bukan dompet, tapi pikiran.
Pikiran yang bilang "gimana besok?", "gimana kalau gagal?", "gimana kalau dilihat orang lain susah?".
Setelah nulis artikel kemarin tentang rasa hidup berhenti, saya coba satu hal sederhana dari tradisi kita: muraqabah. Bukan hal berat, cuma 3 kali nafas.
Ini yang saya lakukan saat cemas itu datang lagi.
1. Nafas Pertama: Sadar (Saya lagi cemas, bukan saya adalah cemas).
Tarik nafas pelan 4 detik, buang 6 detik. Sambil bilang dalam hati: "Oh, saya lagi merasa takut soal uang".
Cuma disadari. Tidak dilawan. Tidak dihakimi. Saat kita sadar, kita berhenti jadi korban pikiran.
2. Nafas Kedua: Menerima (Rezeki itu sudah diatur, tugas saya bergerak).
Tarik nafas lagi. Ingat bahwa rezeki bukan cuma angka di rekening. Hari ini masih bisa nafas, masih bisa minum air, masih punya kuota untuk baca ini, itu juga rezeki.
Menerima bukan berarti pasrah diam. Menerima artinya: "Ya, ini kondisi saya sekarang. Saya terima, lalu saya cari jalan."
3. Nafas Ketiga: Diawasi dengan Cinta (Allah lihat ikhtiar kecil saya).
Ini inti muraqabah. Tarik nafas ketiga, rasakan bahwa Allah sedang melihat. Bukan untuk menghukum, tapi untuk menemani.
Lalu tanya: "Apa satu hal kecil yang bisa saya lakukan 5 menit ke depan?"
Kadang jawabannya cuma: bereskan meja, tulis 3 hal yang disyukuri, atau buka laptop dan tulis 1 paragraf untuk blog. Seperti yang saya lakukan malam ini.
Uang belum tentu langsung datang setelah 3 nafas ini. Tapi paniknya turun. Dan dari tenang itulah, ide dan jalan biasanya muncul.
Kalau kamu lagi di posisi ini, coba dulu 3 nafas ini malam ini. Gratis, tidak butuh modal, bisa dilakukan di mana saja, bahkan di angkot yang sedang macet sekalipun.
Semoga setelah ini, tidur jadi lebih nyenyak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar