![]() |
| Peluang Usaha Praktis |
Saya keliling Lembang 2 minggu kemarin, ngobrol sama 7 anak muda yang omsetnya udah 8-20 juta per bulan. Modal awal mereka rata-rata cuma 3-5 juta. Ini rangkumannya.
ji
![]() |
| Peluang Usaha Praktis |
Saya keliling Lembang 2 minggu kemarin, ngobrol sama 7 anak muda yang omsetnya udah 8-20 juta per bulan. Modal awal mereka rata-rata cuma 3-5 juta. Ini rangkumannya.
Saya mau jujur,atau dengan kata lain,kalau kita mau jujur.Bisnis di tahun 2026 ini sudah tidak sama lagi dengan bisnis tahun 2019, 2020, bahkan 2023. Kalau dulu kita bertarung soal siapa modalnya paling besar, sekarang kita bertarung soal siapa mentalnya paling kuat.
Saya melihat sendiri. Banyak teman saya yang pinter, IPK 4.0, lulusan luar negeri, punya business plan setebal skripsi, tapi bisnisnya mati di bulan ke-6. Kenapa? Bukan karena idenya jelek. Tapi karena mentalnya kerupuk. Sekali dihina customer, langsung down. Sekali iklan boncos Rp 2 juta, langsung trauma. Sekali ditiru kompetitor, langsung menyerah.
Di sisi lain, saya lihat anak muda yang pendidikannya biasa saja, tapi mentalnya seperti petarung jalanan. Ditolak 30 kali, dia tetap jualan. Rugi 10 juta, besok dia buka lagi dengan strategi baru. Dia yang justru sekarang omzetnya miliaran.
Tapi zaman sekarang sudah beda total. Anak SMP sekarang saingannya bukan cuma teman sekelas, tapi anak dari China, India, dan Amerika yang jago coding sejak umur 12 tahun. Ijazah saja tidak cukup lagi. Yang dicari perusahaan dan dunia usaha adalah SKILL praktis.
Lalu les skill apa yang benar-benar praktis dan menghasilkan uang, bukan cuma untuk gaya-gayaan? Ini daftar yang saya rangkum dari riset dan ngobrol dengan banyak orang tua dan pelaku industri.
Maksud kata "Kaya " pada tulisan ini adalah dalam arti tidak termasuk kategori miskin.
Saya sebagai penulis melihat ada satu fenomena yang menarik dari China dalam 20 tahun terakhir. Kita sering lihat produk China di mana-mana, tapi yang jarang dibahas adalah bagaimana keluarga yang dulu sangat miskin di desa-desa China bisa berbalik menjadi keluarga kaya raya hanya dalam satu generasi. Ini bukan sulap, dan bukan karena dapat warisan.
Rahasianya ada pada kombinasi mentalitas, strategi keluarga, dan memanfaatkan sistem yang ada. Apa yang mereka lakukan ini sangat relevan untuk kita di Indonesia, terutama untuk kelas buruh dan karyawan.
1. Satu Keluarga, Satu Visi Bisnis - Bukan Satu Orang Kerja.
Saya,saat ini bukan dari posisi orang yang banyak uang. Saya menulis sebagai sesama pekerja, yang pernah ada di posisi tanggal tua masih lama, tapi kebutuhan sudah di depan mata. Motor harus diservis buat berangkat kerja, anak minta uang buku, atau orang tua di kampung tiba-tiba sakit. Di momen seperti itu, tawaran "Cair dalam 5 Menit" dari pinjaman online (pinjol) terasa seperti pertolongan.
Tapi apakah benar menolong? Saya belajar keras dari pengalaman sendiri dan cerita teman-teman buruh pabrik, karyawan toko, dan driver ojol di sekitar saya. Jika memang terpaksa harus pinjam ke pinjol, ini rangkuman jujur baik dan buruknya khusus untuk kita kelas pekerja.
Kenapa Pinjol Sangat Menggoda untuk Kelas Buruh (Maaf)?
Sekilas tentang petani kita yang hampir setiap panen tidak untung maksimal atau jika dihitung lebih detail rata-rata untung dari bertani mereka sangat kecil.Atau tidak menentu kadang musim ini untung besar tapi di musim berikutnya rugi besar.
Penyebab terbesar selain bencana dan hama adalah ketika panen raya harga jual hasil panen murah dan harus susah payah mencari tengkulak yang mau bayar kontan, sekalipun dapat tengkulak eh malah dihutang yang nggak tentu waktu bayarnya.Kalau bandar yang suka hutang banyak sih..!Yang bayar kontan hampir tak ada.
Petani dengan komoditas yang dikejar busuk tentu tak berdaya menghadapi situasi demikian.Akhirnya dijual walau rugi,dijual walau dihutang.
Menulis hal ini karena saya lihat banyak teman UMKM di Bandung yang kejebak di pola yang sama. Termasuk saya dulu.
Mungkin saya waktu itu masih termasuk orang baru tahu usaha,masih muda,tak ada mentor atau guru yang mendampingi,jadi ya begitulah -ambil langkah usahanya sepengetahuan yang dangkal dan terpaksa harus sering rugi dan banyak salah langkah.
Usaha baru jalan 8 bulan, omzet mulai naik dikit, langsung mikir: "Buka cabang ah, biar keliatan besar." Pinjam modal lagi, sewa tempat lagi, rekrut orang lagi. Eh, 4 bulan kemudian cabang tutup, usaha inti ikut sekarat karena kas nya kesedot. Modal ludes malahan timbul hutang.
Ini pertanyaan klasik yang semua pemilik usaha kecil pasti pernah galau: Fokus dulu di satu titik sampai kuat, atau buka cabang biar cepat besar?
Selamat Datang,Wilujeng Sumping Dulur.. Bersama ini ijinkan saya memberitahukan penyangkalan sebagai berikut: 1.Blog ini (http://bernadaindo...