Sekilas tentang petani kita yang hampir setiap panen tidak untung maksimal atau jika dihitung lebih detail rata-rata untung dari bertani mereka sangat kecil.Atau tidak menentu kadang musim ini untung besar tapi di musim berikutnya rugi besar.
Penyebab terbesar selain bencana dan hama adalah ketika panen raya harga jual hasil panen murah dan harus susah payah mencari tengkulak yang mau bayar kontan, sekalipun dapat tengkulak eh malah dihutang yang nggak tentu waktu bayarnya.Kalau bandar yang suka hutang banyak sih..!Yang bayar kontan hampir tak ada.
Petani dengan komoditas yang dikejar busuk tentu tak berdaya menghadapi situasi demikian.Akhirnya dijual walau rugi,dijual walau dihutang.
Itulah situasi umum yang sudah dan tengah terjadi di dunia pertanian kita sesungguhnya.Baik petani Padi atau bahkan apalagi petani sayur-mayur dan buah-buahan lebih beresiko dibanding petani Padi.
Dalam berita di permukaan memang pemerintah terus mendorong dan membangun program -program untuk memajukan pertanian ini.
Secara teori dan program banyak yang bagus,kelompok tani,program KUD,turun tangan Bulog dan sebagainya dan sebagainya.
Teknologi pertanian juga diprogramkan pemerintah,Traktor,Drone penyemprot pupuk dan obat hama, pembibitan,mesin pengering,mesin panen,tapi..,apakah sudah menyentuh sampai ke mereka yang berstatus "Petani"?
Mungkin karena penduduk di kita terlalu banyak,atau petugas pertanian yang masih kurang,atau program sebatas hangat-hangat tahi ayam tidak berkelanjutan.Entahlah ...terlalu jauh dan riskan kalau saya bahas ini...haha.
Atau sistem yang belum berjalan dengan semestinya?
Yang jelas, realitasnya,kenyataan di daerah saya Petani di sini secara pendapatan belum bisa sejahtera.Mereka banyak yang masih terus miskin karena rata-rata ketika panen tiba jarang mendapat untung yang bagus.Dalam satu tahun hanya bisa dua atau tiga kali panen dan yang dua kalinya rata-rata rugi dengan berbagai macam penyebab di atas tadi.
Dalam rentang waktu proses produksi hampir 3 sampai 4 bulan,tentu butuh biaya yang tidak sedikit ditambah waktu yang panjang dan cuaca yang tidak menentu,membuat petani tak berdaya untuk meningkatkan penghasilan mereka.
Saya bukan ahli teori pertanian,menulis ini sekilas saja tentang situasi yang sudah terjadi di kenyataan saat ini dan sudah berlangsung lama.
Secara teknologi dan atau pengetahuan tentang bertani memang sudah ada kemajuan dibanding 30 tahun yang lalu.Namun secara penghasilan dalam jumlah uang ketika panen tiba,umumnya petani kita masih tidak berdaya melawan situasi jual walau murah,dijual walau dihutang tengkulak,atau bahkan ada yang dibiarkan busuk di kebun karena harga jual anjlok parah.
Sebagai Petani kecil saya merasakan situasi tersebut hampir sepanjang musim dan sepanjang saya jadi petani hampir empat puluh tahunan.
Iseng-iseng saya searching data dan 'riset",ke saudara, tetangga yang pernah bekerja di Jepang sebagai buruh tani di Petani Jepang.Juga saya tonton dari konten kreator sekaligus TKI Jepang,saya tertarik untuk menulis hal ini.Saya belum pernah ke Jepang tapi mungkin pengalaman mereka bisa menambah wawasan tentang Petani dan sistem pertanian negara lain.
Saya rangkum kemungkinan untuk bisa diambil manfaat dari rangkuman berikut.
Petani di Jepang dan Indonesia sama-sama mencangkul tanah, tapi hasilnya beda langit dan bumi. Kalau di Jepang petani dihormati dan sejahtera, di Indonesia masih banyak yang berjuang untuk bertahan hidup. Apa rahasianya?
1. Hasil Panen: Dijamin Negara vs Dijual Sendiri.
Ini beda paling besar.
Di Jepang, ada sistem "JA (Japan Agricultural Cooperatives)",atau Nokyo. Petani tidak pusing cari pembeli. Begitu panen, koperasi yang jemput, beli dengan harga yang sudah ditetapkan pemerintah, simpan di gudang modern, dan jual ke pasar. Harga beras di Jepang sangat stabil dan tinggi karena pemerintah melindungi. Petani tahu pasti bulan ini dapat berapa.
Di Indonesia, cerita sebaliknya. Petani panen raya, harga gabah langsung anjlok. Petani harus keliling cari tengkulak, tawar-menawar sampai capek. Koperasi ada, tapi belum sekuat di Jepang. Bulog memang membeli, tapi serapan masih terbatas. Akibatnya, saat panen banyak, petani malah rugi karena harga jatuh.
2. Lahan Sempit Tapi Teknologi Canggih vs Lahan Luas Tapi Manual.
Jepang lahannya sempit dan pegunungan. Rata-rata petani hanya punya 1-2 hektar. Tapi mereka lawan dengan teknologi. Traktor mini, drone penyemprot pestisida, mesin tanam padi otomatis, sampai greenhouse pintar yang diatur pakai HP. Satu orang bisa kelola lahan dengan efisien.
Indonesia punya lahan super luas, subur, matahari 12 jam. Tapi banyak petani masih pakai cara manual, cangkul, sabit, dan tenaga kerbau. Traktor ada, tapi sering milik kelompok tani, harus antri. Teknologi irigasi pun banyak yang rusak. Akibatnya produktivitas per hektar di Indonesia masih di bawah Jepang, padahal alam kita jauh lebih mendukung.
3. Regenerasi: Anak Muda Berebut vs Anak Muda Kabur.
Di Jepang, jadi petani itu keren. Namanya "smart farmer". Anak muda bangga jadi petani karena penghasilan bisa puluhan juta per bulan, kerja pakai teknologi, dan dapat subsidi besar dari pemerintah. Pemerintah Jepang kasih modal untuk anak muda yang mau bertani.
Di Indonesia, jadi petani sering dianggap tidak punya masa depan. Anak muda lebih memilih merantau ke kota jadi karyawan pabrik atau ojek online. Rata-rata petani Indonesia umurnya sudah di atas 45 tahun. Kalau tidak ada regenerasi, 10 tahun lagi siapa yang mau nanam padi kita?
4. Sistem Berkelanjutan vs Kejar Panen.
Petani Jepang sangat disiplin soal keberlanjutan. Mereka pakai pupuk organik, rotasi tanaman, dan jaga kualitas tanah untuk 20 tahun ke depan. Produknya memang mahal, tapi kualitasnya juara dunia, bisa ekspor dengan harga premium.
Di Indonesia, banyak yang masih kejar hasil cepat. Pupuk kimia dipakai berlebihan, tanah jadi keras dan rusak. Setelah panen, jerami dibakar, padahal bisa jadi kompos. Pola ini bikin tanah makin miskin dan butuh pupuk makin banyak setiap tahun.
Apa yang Bisa Kita Tiru?
Indonesia tidak perlu jadi Jepang, tapi bisa tiru sistemnya.
Pertama, perkuat koperasi tani yang benar-benar membeli hasil panen dengan harga wajar, bukan sekadar simpan pinjam.
Kedua, pemerintah harus hadir jamin harga gabah saat panen raya anjlok. Jangan biarkan petani perang harga dengan tengkulak.
Ketiga, masukkan teknologi tepat guna yang murah, bukan traktor raksasa tapi drone kecil, mesin panen mini, dan aplikasi info harga pasar.
Jepang membuktikan negara tanpa lahan luas bisa sejahterakan petaninya. Indonesia dengan lahan seluas ini, matahari, dan air melimpah, seharusnya bisa lebih sejahtera. Kuncinya bukan di tanahnya, tapi di sistem yang mengurus petaninya.
Kalau petani Jepang diurus sampai sejahtera, kapan petani Indonesia?
...catatan ringan tentang ini, insyaallah saya lanjutkan nanti ke artikel berikutnya..
Salam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar