Menulis hal ini karena saya lihat banyak teman UMKM di Bandung yang kejebak di pola yang sama. Termasuk saya dulu.
Mungkin saya waktu itu masih termasuk orang baru tahu usaha,masih muda,tak ada mentor atau guru yang mendampingi,jadi ya begitulah -ambil langkah usahanya sepengetahuan yang dangkal dan terpaksa harus sering rugi dan banyak salah langkah.
Usaha baru jalan 8 bulan, omzet mulai naik dikit, langsung mikir: "Buka cabang ah, biar keliatan besar." Pinjam modal lagi, sewa tempat lagi, rekrut orang lagi. Eh, 4 bulan kemudian cabang tutup, usaha inti ikut sekarat karena kas nya kesedot. Modal ludes malahan timbul hutang.
Ini pertanyaan klasik yang semua pemilik usaha kecil pasti pernah galau: Fokus dulu di satu titik sampai kuat, atau buka cabang biar cepat besar?
Adakalanya yang ngasih saran bahwa uang kita jangan ditaruh di satu keranjang ,tapi taruh di beberapa keranjang biar jika satu keranjang hancur modal kita tak hancur semua.
Atas bunyi saran tersebut pikiran kadang galau, mungkin kalau buka bisnis baru,tempat baru,cabang baru bisnis kecil kita akan lebih bagus?
Untuk hal di atas panjang bahasannya,semua tergantung pada jenis dan kelas usaha, situasi dan kondisi pemilik usaha,dan sebagainya dan seterusnya.
Tetapi sependek pengalaman saya,untuk jenis dan bidang usaha kecil,mungkin sepercik pengalaman penulis yang pernah "serakah" untuk ekspansi usaha terlalu cepat dan akhirnya banyak gagalnya,berbagi dengan harapan semoga bermanfaat maka bisa saya rangkum tulisan di bawah ini:
Pembaca rekan usaha kecil semua,
Jawaban jujur saya: Untuk usaha kecil, fokus itu bukan pilihan, tapi kewajiban.
Kenapa? Ini 3 alasan yang saya pelajari dengan cara yang mahal (penulis pernah gagal ludes modal atau bangkrut).
1. Satu Lubang Yang Dalam Jauh Lebih Menghasilkan Daripada 5 Lubang Dangkal.
Bayangin Anda punya satu sumur. Kalau Anda gali terus di satu titik sampai 20 meter, kemungkinan keluar air besar. Tapi kalau Anda gali 5 titik, masing-masing cuma 4 meter, yang Anda dapat cuma 5 lubang kering dan capek.
Usaha kecil itu persis begitu.(Jangan bandingkan dengan bisnis besar ya boss,bisnis gede lain cerita hehe).
Saya punya satu Avanza untuk rental wisata. Dulu pengennya langsung punya 3 mobil, buka pool di Pasteur, di Kiaracondong, di Lembang. Keliatan keren. Tapi setelah saya hitung, uang servis, gaji sopir, sewa parkir untuk 3 mobil itu bisa bikin saya minus kalau 1 mobil gak jalan 10 hari.
Akhirnya saya balik. Satu mobil saya maksimalkan dulu.
- Saya bikin 3 paket wisata yang benar-benar matang (Lembang, Ciwidey, City Tour).
- Saya bangun kerja sama dengan 15 hotel.
- Saya rapikan SOP driver sampai tamu kasih review bintang 5.
Hasilnya? Satu mobil itu profit bersihnya bisa 6-9 juta sebulan. Lebih besar daripada punya 3 mobil yang masing-masing setengah nganggur dan bocor biaya perawatan dan operasional.
Fokus itu artinya: Anda jadi ahli di satu hal sampai orang lain tidak punya pilihan selain datang ke Anda. Di Bandung, rental Avanza itu ada ribuan. Tapi rental Avanza yang sopirnya hapal jalan tikus anti macet Lembang dan selalu wangi mobilnya, itu cuma puluhan. Itu yang saya kejar.
Kalau usaha inti Anda belum menghasilkan profit stabil minimal 6 bulan berturut-turut, belum punya SOP yang bisa jalan tanpa Anda, dan belum punya pelanggan yang repeat order, jangan mikir cabang...! Itu bunuh diri.
2. Buka Cabang Itu Menggandakan Masalah, Bukan Menggandakan Omzet.
Hal ini yang gak banyak dikupas tuntas pada seminar motivasi.
Kita mikirnya buka cabang itu: omzet cabang 1 = 10 juta, buka 3 cabang = 30 juta. Enak banget.Dan hitungan ini 80 persen meleset.
Faktanya di lapangan: Masalah cabang 1 = 1 masalah, buka 3 cabang = 3 masalah dikali 10.
Kenapa? Karena Anda belum punya sistem.
Di usaha inti, Anda masih yang pegang semuanya. Anda yang jadi marketing, yang jadi admin, yang jadi tukang komplain. Begitu buka cabang, Anda tidak bisa belah diri. Anda harus titipkan ke orang lain. Dan di titik inilah 90% UMKM hancur.
- Karyawan cabang pakai uang kas buat keperluan pribadi.
- Kualitas pelayanan di cabang beda jauh sama pusat, pelanggan kecewa.
- Stok barang di cabang numpuk tidak laku, uang mati di sana.
- Anda capek bolak-balik kontrol, usaha pusat jadi terbengkalai.
Saya pernah ngobrol sama pemilik warung kopi di Dago. Cabang pertama rame. Buka cabang kedua di Antapani. Dia pikir resep kopinya sama, pasti rame. Ternyata barista cabang kedua takarannya ngaco, pelayanannya jutek, review Google langsung anjlok 2 bintang. Yang kena imbas bukan cuma cabang kedua, tapi brand utamanya ikut jelek.
Cabang itu bukan sekadar sewa tempat baru. Cabang itu butuh: Manajer yang jujur, SOP tertulis yang detail, laporan keuangan harian, dan modal cadangan minimal 6 bulan sewa. Kalau 4 ini belum ada, jangan buka.
3. Kapan Waktu Yang Tepat Buka Cabang? Ini Checklist Jujurnya.
Jadi kapan boleh buka cabang? Saya pakai checklist ini sekarang, dan ini menyelamatkan modal saya dari ludes.
Jawab JUJUR 5 pertanyaan ini:
1. Apakah usaha inti sudah profit bersih (bukan omzet) minimal 20% selama 6 bulan terakhir tanpa Anda harus standby 12 jam di sana? Kalau masih Anda yang harus buka tutup toko, belum siap.
2. Apakah Anda sudah punya SOP tertulis? Sampai level: cara jawab WA customer, cara cuci mobil, cara handle komplain. Kalau SOP masih di kepala Anda doang, karyawan cabang tidak akan bisa duplikasi.
3. Apakah Anda punya orang kepercayaan yang sudah Anda didik minimal 6 bulan? Bukan rekrut orang baru langsung suruh jaga cabang. Harus orang lama yang sudah paham napas usaha Anda.
4. Apakah Anda punya modal cadangan 3x lipat dari modal buka cabang? Contoh: sewa tempat + renov + stok awal butuh 30 juta, Anda harus punya 90 juta. 30 juta buat buka, 60 juta buat nahan rugi 6 bulan pertama. Cabang baru itu hampir pasti rugi di 3 bulan awal.
5. Apakah cabang baru itu membuka pasar baru, atau cuma memindahkan pelanggan lama? Kalau buka cabang jaraknya cuma 2 km dari pusat, Anda cuma mecah pelanggan sendiri.
Kalau dari 5 ini ada 2 saja yang jawabannya TIDAK, saran saya: Tahan dulu. Fokuslah ke usaha utama saja.
Fokus itu bukan berarti diam. Fokus itu berarti perdalam.
- Kalau Anda jualan kuliner, fokus perdalam rasa, perdalam packaging, perdalam layanan delivery.
- Kalau Anda rental seperti saya, fokus perdalam kerja sama hotel, perdalam paket wisata, perdalam review Google sampai 200 ulasan bintang 5.
- Kalau Anda jualan baju, fokus perdalam desain dan pelanggan loyal.
Pendalaman itu yang bikin pondasi Anda beton. Nanti kalau Anda buka cabang, cabang itu tinggal copy-paste sistem yang sudah beton, bukan copy-paste masalah.
Teman-teman UMKM, godaan buka cabang atau buka bidang usaha baru itu memang besar. Kelihatan keren, bisa pamer di Instagram. Tapi yang bikin kita bertahan 5-10 tahun ke depan bukan seberapa banyak cabang kita, tapi seberapa kuat satu usaha inti kita menahan badai.
Mungkin tak usahlah terlalu terburu-buru terlihat besar. Lebih baik terlihat kecil tapi rekening tebal dan tidur nyenyak, daripada terlihat punya 3 cabang tapi tiap malam pusing mikirin utang dan karyawan yang bermasalah.
Fokus dulu. Kuatkan dulu. Baru mekar.
Saya doakan usaha Anda yang satu itu jadi sangat kuat bulan ini.
Mohon maaf tulisan ini bukan hendak menggurui,akan tetapi semoga ada manfaatnya bagi kita,bagi anak cucu kita atau siapa saja terutama pada pejuang usaha kecil perintis.
Salam semangat.
Baca juga : Hitung-hitungan Usaha Ojol
(©AWD2026).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar