Sabtu, 10 Oktober 2026

Bedanya Mindfulness dan Muraqabah?

Akhir-akhir ini kita sering mendengar kata mindfulness. Di sisi lain, dalam tradisi Islam kita mengenal muraqabah.

Lalu muncul pertanyaan pelan: apakah keduanya sama? Apakah mindfulness itu boleh untuk seorang Muslim? Harus pilih yang mana?

Jika kamu juga bertanya begitu, mari kita duduk sebentar dan menguraikannya tanpa perlu berdebat.

Karena ternyata, keduanya bukan untuk dipertentangkan, tapi untuk saling mengenalkan.

Mindfulness: Seni Hadir Sepenuhnya.

Mindfulness lahir dari tradisi kontemplatif timur yang kemudian diteliti secara modern. Intinya sederhana: hadir sepenuhnya pada saat ini tanpa menghakimi.

Contohnya begini: saat minum teh, benar-benar merasakan hangatnya cangkir, aromanya, rasanya. Bukan sambil minum sambil memikirkan tagihan dan membalas chat.

Mindfulness melatih kita untuk melihat pikiran sebagai awan yang lewat. Ada, terlihat, tapi tidak harus dipercaya semua.

Latihannya adalah: sadar, menerima, hadir.

Muraqabah: Merasa Diawasi dengan Cinta

Muraqabah berasal dari kata raqaba, yang artinya mengawasi, menjaga.

Dalam tasawuf, muraqabah adalah kesadaran bahwa kita sedang diawasi oleh Allah, dan kita pun mengawasi hati kita sendiri agar tetap dalam kehadiran-Nya.

Jika mindfulness berkata "aku hadir pada saat ini", maka muraqabah berkata "aku hadir pada saat ini bersama Allah".

Bedanya tipis, tapi dalamnya jauh.

Contohnya: saat cemas, dalam mindfulness kita akan berkata "aku menyadari ada rasa cemas". Dalam muraqabah, kita berkata "aku menyadari ada rasa cemas, dan Allah menyaksikan cemas ini bersamaku".

Satu menghadirkan kesadaran. Satu menghadirkan kesadaran plus kebersamaan.

Jadi, Mana yang Harus Dipilih?

Kamu tidak harus memilih.

Bayangkan seperti ini:

Mindfulness adalah cara kita *membuka pintu*. Muraqabah adalah cara kita *tahu kepada siapa kita pulang* setelah pintu terbuka.

Banyak teman-teman di Bernada Indo yang memulai dari mindfulness untuk belajar tidak hanyut oleh pikiran, lalu menemukan kedalaman baru saat menyelipkan muraqabah di dalamnya.

Rumus sederhananya yang bisa kamu coba hari ini:

...Tarik nafas (mindfulness):...Aku hadir.

....Buang nafas (muraqabah):...Allah bersamaku.

Tarik: Hadir.

Buang: Bersama-Nya.

Itu saja. Tidak perlu istilah berat. Tidak perlu merasa bersalah.

Apakah Mindfulness Islami itu Ada?

Ada, dan kamu sedang melakukannya.

Mindfulness islami bukanlah mengganti istilah. Ia adalah mindfulness yang diberi arah pulang. Kita tidak hanya hadir pada nafas, tapi sadar nafas ini adalah titipan.

Kita tidak hanya mengamati pikiran, tapi menitipkan pikiran itu kepada Yang Maha Menjaga.

Maka jika seseorang bertanya, apakah mindfulness bertentangan dengan Islam?

Jawabannya: nafas yang disadari untuk mengingat-Nya tidak akan pernah menjauhkan dari-Nya.

Mindfulness mengajarkan kita cara hadir. Muraqabah mengajarkan kita untuk siapa kita hadir.

Kamu tidak perlu menjadi ahli untuk memulai. Cukup dengan satu teh hangat hari ini, diminum dengan penuh hadir dan rasa diawasi dengan cinta.

Selamat berpulang,pelan-pelan saja kawan!

Disarikan dari berbagai sumber*

Tidak ada komentar:

Terpopuler