![]() |
| Ilustrasi Suami istri bekerja |
Saya dan istri sama-sama kerja. Bukan karena kami gila harta, tapi karena kalau satu saja yang kerja, cicilan rumah di Bandung, uang sekolah, dan harga sembako tidak akan ketutup.
Awalnya kami pikir bisa. Kami coba bayar baby sitter. Saya tanya tetangga di komplek, harganya sekarang Rp 2 juta sampai Rp 3,5 juta sebulan untuk yang datang jam 8 pulang jam 5. Belum uang makan, belum kalau anak sakit dia tidak masuk. Kalau baby sitter menginap, bisa Rp 4 juta lebih. Gaji istri saya saja hampir habis untuk itu saja.
Kami pusing. Lalu kami seperti kebanyakan pasangan muda di Indonesia, terpikir satu solusi yang paling dekat: titip ke orang tua.
Mertua saya di luar kota, orang tua saya di Bandung. Tapi jujur, di hati ada rasa tidak enak. Pantaskah anak kami diasuh oleh kakek neneknya? Apakah kami anak yang durhaka karena menitipkan beban?
Setelah setahun menjalani ini, saya mau cerita jujur. Tidak ada yang ideal, tapi ada yang bisa diusahakan.
1. Kenapa Banyak Pasangan Terpaksa Titip ke Orang Tua?
Ini bukan soal malas. Ini soal ekonomi. Data BPS 2024 menyebutkan lebih dari 60% rumah tangga muda di kota besar, suami dan istri harus bekerja. UMR Bandung Rp 2,2 juta-3 jutaan, tapi biaya hidup keluarga dengan 1 anak bisa Rp 6-7 juta.
Baby sitter, daycare, atau TPA (Tempat Penitipan Anak) yang bagus di Bandung tarifnya Rp 1,5 juta - Rp 2,5 juta per bulan. Itu pun antri. Akhirnya, orang tua menjadi safety net terakhir yang gratis dan penuh kasih sayang. Karena hanya kakek nenek yang mau menjaga cucu tanpa dibayar, bahkan sambil memberi uang jajan.
2. Pantaskah? Jujur, Ada Sisi Baik dan Tidak Baik.
Saya tidak mau munafik bilang ini 100% baik. Ada enaknya, ada tidak enaknya.
Enaknya dulu. Anak diasuh orang tua itu kasih sayangnya tulus. Tidak ada yang lebih sabar dari nenek. Anak saya jadi dekat dengan kakeknya, tahu bahasa Sunda halus, tahu cerita masa lalu. Dan yang paling penting, kami sebagai orang tua bisa kerja dengan tenang karena yang jaga adalah orang yang kami percaya 100%. Tidak takut anak dicubit atau dibentak.
Tapi tidak enaknya juga ada, dan ini yang sering membuat ribut. Pertama, perbedaan pola asuh. Kami melarang anak nonton YouTube sambil makan, tapi di rumah nenek dikasih HP biar anteng. Kami melarang jajan micin, di rumah kakek dibelikan ciki. Kedua, orang tua kami sudah tua. Umur 60 tahun lebih harus mengurus balita umur 2 tahun yang super aktif, itu capek luar biasa. Saya lihat ibu saya sering kelelahan, pinggangnya sakit karena gendong cucu.
Dan yang paling berat adalah rasa bersalah. Setiap berangkat kerja pagi, melihat ibu saya yang sudah sepuh harus bangun pagi menyiapkan bubur untuk cucu, saya merasa bersalah. Apakah kami tega?
3. Jawabannya: Boleh, Asal Tidak Kebablasan.
Setelah konsultasi dengan banyak teman, dengan guru ngaji, dan dengan psikolog anak di Puskesmas, saya dapat kesimpulan: Boleh dan sah-sah saja anak diasuh kakek nenek, asal ada adab dan aturannya. Jangan jadikan orang tua sebagai baby sitter gratis selamanya tanpa batas.
Ini yang kami lakukan sekarang sebagai solusi tengah:
Pertama, Buat Kesepakatan yang Jelas.
Kami duduk berdua dengan orang tua. Bukan menitipkan begitu saja. Kami tanya, Ibu sanggupnya sampai jam berapa? Ternyata ibu saya hanya sanggup sampai jam 3 sore. Lewat dari itu beliau harus istirahat. Jadi kami atur shift. Saya masuk kerja jam 7 pulang jam 3, istri masuk jam 10 pulang jam 6. Jadi anak hanya di rumah nenek jam 10 sampai jam 3 saja. Tidak seharian.
Kedua, Samakan Pola Asuh.
Ini paling sulit tapi harus. Kami bikin aturan tertulis di kulkas: jam tidur siang jam 1, tidak boleh kasih HP lebih dari 30 menit, jajan maksimal 1 per hari. Kami sampaikan dengan sopan, bukan memerintah. Kami bilang, Bu, kami titip tolong ajarkan seperti ini ya, biar anak tidak bingung. Alhamdulillah orang tua mengerti.
Ketiga, Jangan Gratis 100%.
Ini adab. Walaupun orang tua tidak minta uang, kami wajib memberi. Kami tidak memberi gaji, tapi kami menanggung listrik, beras 20kg sebulan, gas, dan uang jajan untuk cucu. Kami juga belikan kursi pijat kecil untuk ibu. Karena menjaga cucu itu pekerjaan fisik. Kalau kita pelit, rezeki kita juga seret.
Keempat, Punya Batasan Waktu.
Kami sepakat, ini hanya solusi 2-3 tahun sampai anak masuk TK. Setelah anak masuk TK full day, kami akan masukkan ke sekolah yang ada penitipan sore. Jadi orang tua tidak selamanya menjadi pengasuh. Mereka juga butuh menikmati masa tua, pengajian, dan arisan, bukan terus mengasuh.
Kelima, Alternatif Murah Selain Baby Sitter.
Kalau orang tua sedang sakit atau mudik, kami tidak memaksakan. Kami punya plan B: Daycare per hari di dekat rumah Rp 75 ribu per hari, bisa bayar harian. Atau kami gantian WFH. Kantor saya sekarang mengizinkan WFH 2 kali seminggu. Saya ambil itu untuk jaga anak. Jadi tidak semua beban ke nenek.
Sekarang anak saya umur 3,5 tahun. Dia bahagia. Dia punya kasih sayang dari orang tua, dan juga dari kakek nenek. Dia tidak kekurangan kasih sayang. Kami sebagai suami istri juga masih bisa kerja tanpa harus berutang untuk bayar baby sitter Rp 3 juta.
Jadi untuk bapak-bapak atau ibu-ibu yang sedang di posisi yang sama seperti saya: pasutri kerja semua, tidak sanggup bayar baby sitter, dan terpikir untuk titip ke orang tua. Jawaban saya: Pantas, sangat pantas dan tidak durhaka, asal kamu tahu adabnya.
Jangan jadikan orang tua sebagai pembantu gratis. Jadikan mereka sebagai partner. Hargai tenaganya, jaga kesehatannya, dan beri batas waktu. Anak butuh kakek nenek, tapi kakek nenek juga butuh istirahat.
Semoga cerita ini membantu. Kalau kamu punya pengalaman sama, tulis di komentar ya. Kita sharing, karena jadi orang tua zaman sekarang memang tidak mudah.(©AWD2026).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar