ji

Jumat, 23 Oktober 2026

Novel Stensilan Dewi Sartika: Mengenang Karya Freddy S dan Bisikan Legendaris Buku Semi Romantis di Bandung 80-an

Pengalaman penulis Mengenang Karya Freddy S yang ngetop pada saat itu.

Kalau kamu anak Bandung tahun 70-80an pasti hafal rute ini. Turun di Terminal Kebon Kalapa, naik angkot Rp 25 atau jalan kaki kearah ke Alun-Alun, turun di Jalan Dewi Sartika. Di sepanjang jalan menuju Alun-Alun berjejer kios kayu beratap terpal biru. Tulisan kardusnya BUKU BEKAS Rp 500 - Rp 1000.

Di depan terpajang Majalah Bobo, Hai, Tempo,Gatra,Matra,Sarinah,Femina dan sebagainya. Tapi di bawah meja ada harta karun lain yang dijual dengan bisikan pelan,"A.. bade buku E*** Arr***?

Itulah dunia novel stensilan di Bandung saat itu.Yang paling ngetop Novel karya-karya Freddy S, fenomena literasi jalanan Bandung yang kini tinggal kenangan.

Novel stensilan adalah buku yang dicetak pakai mesin stensil. Diketik pakai mesin ketik, digandakan 200 sampai 500 eksemplar, kertas HVS buram kekuningan, dijilid staples. Tebal 100 sampai 150 halaman, habis dibaca sekali jalan angkot Dago Cihampelas.

Pusatnya ada dua. Jalan Palasari yang agak resmi sebagai pusat buku bekas, dan Jalan Dewi Sartika yang lebih underground.

Freddy S adalah penulis novel paling terkenal. Dia bisa menulis satu novel dalam 2 sampai 3 hari, setahun bisa 30 judul. Semua judul pakai nama perempuan seperti Enny, Karmila, Tik Tik dsb. Yang paling legendaris Enny Ar***. Dulu disebut novel semi romantis biar aman.

Kenapa laku keras? Harganya sama dengan Majalah Bobo bekas, cuma Rp 500. Jadi bacaan rahasia mahasiswa, anak STM, supir angkot Terminal Kebon Kalapa, sampai tukang becak di Braga.

Cara jualannya penuh drama. Pedagang lihat dulu pembeli. Kalau pakai seragam sekolah tidak akan ditawarkan karena takut razia. Kalau sudah dewasa baru dibisiki pelan. Kalau angguk baru dikeluarkan dari bawah meja yang ditutup koran. Kalau ada razia Satpol PP, yang pertama diamankan tumpukan stensilan ini.

Ekosistem hiburan Bandung 80an saling nyambung. Pagi cari buku di Palasari, siang nonton bioskop di Palaguna Nusantara. Gedung Palaguna ini mal pertama di Bandung yang punya eskalator, diresmikan 15 Mei 1985. Dulunya lahan Bioskop Elita tahun 1908, Nusantara, dan Varia. Sore nongkrong di Jalan Braga lihat Braga Stone, malam naik becak atau angkot Rp 25 pulang bawa tumpukan majalah.

Kini Terminal Kebon Kalapa jadi Terminal Abdul Muis, bekas garasinya jadi Pusat Perbelanjaan ITC Kebonkalapa,dulu ongkos angkot Rp 25, sekarang jadi Rp 5000, Palaguna sudah diratakan tahun 2014 jadi lahan parkir dekat Alun-Alun Timur. Jalan Braga jadi tempat wisata, Gedung Merdeka dan Gedung Sate jadi ikon foto. Tapi lapak Dewi Sartika tetap ada sampai 2026 ini walau baru kena penertiban 15 Oktober 2026 kemarin.

Novel Freddy S punah karena kalah dengan fotokopi dan internet. Tapi bisikan bade buku Enny Ar*** tetap hidup di memori warga Bandung.

Bagi yang pernah beli majalah bekas di Dewi Sartika, itu bukan soal bukunya tapi soal deg-degan dan rasa jadi bagian dari rahasia kota.

Tapi itu dulu,tiga puluh atau empat puluh tahun yang lalu.Salam takzim untuk Pak Freddy S yang saya tak tahu nama aslinya sampai saat ini.

Mohon maaf bila ada tulisan yang tidak sesuai.Ini hanya catatan ringan mengenang seserpih kenangan penulis pada masa itu.

Tidak ada komentar:

Disclaimer

Penyangkalan

Selamat Datang,Wilujeng Sumping Dulur.. Bersama ini ijinkan saya memberitahukan penyangkalan sebagai berikut: 1.Blog ini (http://bernadaindo...